Ditinggal Selingkuh?! Udah Putusin Aja

Malem ini aku gemezzz banget ingin memosting sesuatu yang menganggu pikiranku akhir-akhir ini. #eaaa

Please to note: bahasa yang kupakai mungkin bakal gado-gado nan ala-ala.

Jadi semua kegemazzzan ini berawal ketika di media sosial banyak sekali yamg curhat ditinggal suaminya atau tunangannya selingkuh sama perempuan lain! Dan beliau-beliau ini adalah wanita yang bisa dikatakan ‘tidak biasaaa’ lah gimana biasa, beliau yang ditinggal selingkuh ini rata-rata istri yang cantik lho, baik, berpendidikan lagi. Sebut saja bu dokter Nengkys yang ditinggal suaminya selingkuh. Ada mba Ana Abdul Hamid seorang notaris hukum- yang pernah curhat dipoligami suaminya di youtube itu. Dan banyak kisah-kisah serupa yang muncul di timeline facebook saya. In the very first beginning saya nggak ngerti alasan suami mereka selingkuh, saya juga nggak ngerti masalah dalam rumah tangga itu apa aja. Tapi sumpah demi apa, melihat para istri yang diselingkuhin suaminya apalagi dalam kondisi hamil itu kasihan banget yawla. Kok ya ada manusia macam mereka itu. Tapi emang beneran ada.

Saya benci banget sama laki-laki yang doyan selingkuh, sretel sana sini, tebar pesona sana-sini kalo udah ada yang nyangkut baru deh mencari pembenaran atas dasar ‘sama-sama sayang’. Pun sama dengan wanita penggodanya. Selevel deh! Sekelas!

Laki-laki maupun perempuan yang doyan selingkuh itu bagi saya adalah mereka yang kufur nikmat lah gimana wong sudah dikasih sosok yang melengkapi hidupnya eh masih aja cari yang lain lagi. Kayak situ oke aja. Saya bisa pastikan orang-orang begitu hatinya ada di dengkul, otaknya juga ding. Jadi selama otak dan hatinya belum kejedot mereka juga nggak akan pernah sadar, if it’s wrong. Yang penting kan sayang, hehe. Wtf till the end of the day.

Saya tahu bahwa setiap orang nggak ada yang sempurna. Tapi bukan berarti ketidaksempurnaan itu menjadi alasan untuk meninggalkan seseorang apalagi kalo udah dalam ikatan pernikahan. Saya jadi inget kata-katanya Om Tere Liye, “Membangun pernikahan dan kehidupan jangka panjang itu cinta aja nggak cukup. Nanti bensinnya mogok. Butuh komitmen dan kesetiaan.” Barangkali quote tersebut ada benarnya melihat kenyataan perselingkuhan yang viral akhir-akhir ini. Hmm. 

Saya pribadi akan lebih memilih untuk putus/cerai apabila diselingkuhi :p

Karena selingkuh adalah hal paling terlarang dalam kamus saya. Orang yang selingkuh itu murahan sekali. Dan sebagai orang yang baik saya akan memberikan kesempatan bagi pengkhianat dan penggoda untuk saling bersama! Karena kalau masih sama-sama bareng yang setia itu bukan levelnya. Kasihan dong masa dibikin nangis mulu, sedangkan mereka have fun bahagia tanpa beban. 

Dear mba-mba atau siapapun yang sedang atau pernah diselingkuhi, alangkah baiknya lepaskan. Buat apa menyiksa diri hidup bersama laki-laki yang tidak bisa menghargai. Saya jadi heran, mereka ini dekat nggak sih sama ibunya? Gimana coba kalo posisi ibunya diselingkuhi bapaknya. Atau bahkan dia sendiri menjadi posisi diselingkuhi. Lak yo loro tho, mas.

Bagi orang-orang seperti mereka hidup itu kayak main game, yaudah main aja, termasuk main-mainin perasaan orang dan tanpa merasa bersalah. Yakin mau bertahan sama yang begitu? Kalo saya sih yaaa mohon maaf ๐Ÿ˜€

Bagi mereka yang sudah berumah tangga mungkin akan berpikir seribu kali untuk cerai apalagi karena alasan anak. Takut anaknya tumbuh menjadi broken home lah. Apalah. Saya pernah baca buku psikologi, sebenernya yang bikin anak merasa ‘broken’ adalah bukan karena ketiadaan sosok ayah. Tapi kondisi rumah tangga yang nggak lagi sehat untuk tumbuh kembang si anak. Oke secara teoritis mungkin terdengar too far awaaay, mungkin karena saya sendiri juga belum pernah mengalami sih, hehe.

Tapi saya pribadi, naudzubillah kalo sedang berada di posisi mereka saya nggak akan segan menceraikan meskipun sudah punya anak. Kenapa? It is much better, daripada saya harus menahan sakit hati ketika orang yang paling saya cintai #ea berduaan dengan perempuan lain, bersenang-senang di atas air mata. Dih nggak banget! Lha eman tho kasih sayangmu yang suci nan putih itu #ea dibalas dengan air tuba. Toh anak saya nanti bakal saya kasih pengertian, bahwa sayang hidup ini kadang tidak semulus apa yang kita harapkan. Jadi beranilah berprinsip. You deserve to not feel pain. Happiness in on your hand.

Mama saya selalu bilang, nak kamu jadi perempuan itu yang cerdas. Yang mandiri. Jangan 100% bergantung sama orang lain. The only one you can rely on is to Him, ke Allah. Sisanya kamu jalan sendiri. Jadi ketika ada masalah-masalah dalam hidup kamu nggak kaget. Nggak alay :’)

Jadi inti dari postingan ini adalah saya, bersama para perempuan yang membaiat dirinya sebagai anti pelakor-perebut laki orang di grup-grup ala lambe turah menyatakan diri menolak segala bentuk perselingkuhan di muka bumi ini :p Selingkuh atau putus. Poligami atau cerai. Monggo pilih yang mana mas :p hahaha 

Intinya, jangan pernah ragu melepaskan laki-laki yang selingkuh. Kecuali memang hatimu setegar baja :p Allah bakal kasih ganti yang jauh lebih baik kok, yang setia dan menghargai perasaan. Inshaa Allah :’)

Selamat menunaikan ibadah sahur ^^

Yogyakarta, 2017

Dari gadis kecil yang selalu mengidolakan papanya sebagai laki-laki paling baik^^

Catatan Kecil tentang Yogyakarta #1

Yogyakarta, 9 Mei pukul 00:08

Alu nggak ngerti harus mulai darimana. Yang pasti hari ini aku ngerasa sedih, terharu, bahagia atas apa aja yang telah terjadi dalam hidupku. Tadi siang, sewaktu aku sibuk membaca halaman demi halaman Angels and Demonsnya Dan Brown, tiba-tiba sahabatku Fanni nyeletuk “Eh ini so sweet banget..” sambil nunjukin snapgramnya mas Retas yang mengcapture kemesraan mbak Zahra dan mas Fahmi. Dua mahasiswa kedokteran, sama-sama hafidz dan hafidzah yang baru saja menikah. “Oalah mbak ini iya aku baru follow dia, aku tau mbaknya dari snapgram mba Isna.” Kataku. “Mbak Zahra keren ya..” Pikir kami berdua.

Di Yogyakarta, bisa dibilang aku dipertemukan secara langsung maupun tidak dengan orang-orang yang Subhanallah keren-keren :’) Sebelumnya banyak orang yang bilang ke aku, “hati-hati loh kuliah di Jogja. Pergaulan bebasnya serem-serem. Banyak yang udah nggak perawan bla bla bla..” sambil nyinyirin keputusanku untuk menimba ilmu di kota pelajar ini. Aku percaya kalo di setiap kota manapun ‘ bad influence’ itu pasti ada. Toh pinter-pinter kita aja memutuskan pilihan mau jadi apa. Mempertahankan sesuatu yang menurut kita prinsipil atau do not take it for granted. Being bad or good, it is all about choice. Berkaca dari stalkingan Fanny hari ini, aku jadi throwback kenapa aku memutuskan untuk kuliah di Jogja daripada di Surabaya, Malang dan kota-kota lainnya yang deket dengan kota kelahiranku. Because I feel something bond between me and Jogja, between me and UGM :’)

Dulu salah satu hal yang mempengaruhi keputusanku berhijab adalah baca kisah-kisahnya mbak Asa Lizadi dan mbak Tazkia Fatimah. Mereka adalah ukhti-ukhti yang luar biasa hehehe. Dua-duanya orang Jogja dan bermukim di Jogja. Dua-duanya perempuan hebat aaakk. Serius. Dan bisa dibilang karena merekalah aku berani merantau jauh dari kampung halaman untuk kuliah disini, karena selain asyik menurutku Jogja is friendly city to dig deeply more about Islam. Aku dulu nggak berhijab. Ngajiku pun nggak bagus-bahkan sampe sekarang. Tapi disini, di kota ini aku ngerasa bahwa you’ll have chance. Chance for everything’s good. Salah satunya belajar ngaji. Tepat setahun lalu aku iseng-iseng daftar ngaji kelas tahsin paling dasar di Masjid Syuhada. Disana aku belajar ngaji bareng sama santri lainnya. Ada yang anak SD, bapak-bapak, ibu-ibu bahkan nenek-nenek sekelas sama aku. Awalnya aku ngerasa malu hehe karena yang seumuran sama aku nggak adaaa ๐Ÿ˜ฅ tapi lama-lama aku justru ngerasa malu sama nenek-nenek yang semangat masuk kelas ini. Beliau sudah sepuh tapi keinginannya luar biasa untuk  belajar ngaji. Tepat setahun yang lalu juga bisa dibilang aku mulai ‘hijrah’ pake rok daripada celana jins. Sebenernya this is not purely karena syariat sih wkw. Aku suka pake rok karena iseng aja terus pas udah kebiasaan pake rok, pas pake celana jins lagi jadinya nggak cocok. Nggak enak gitu. Tapi karena perubahan tsb aku mendapat investigasi dan respon yang menurutku over dari mamaku dan temen-temenku di kota kelahiran. Kayak misalnya, “wah ukhti subhannallah bla bla bla..” atau “eh kamu sekarang bajunya gini ya. Ikut pengajian apa?” -_-

Tapi iya bener, di Jogja itu aku merasa diberi pencerahan, dipertemukan sama orang-orang yang menurutku inspiratif, prestatif rather than di kota kelahiranku. Dimana prestasi itu dianggap nggak penting, dimana generasi mudanya sok-sokan ngehits jadi selebgram, buka baju is awkay dan semacamnya. Being bad boys and girls is a trend. Aku nggak menggeneralisir sih toh di Jogja juga ada yang begitu. But I found a lot in my hometown. 

Jadi inti dari tulisan malam ini adalah, aku bersyukur bisa menjadi bagian dari Jogja. Aku-yang bukan siapa-siapa ini. Yang hanyalah seonggok remah jasjus lima ratusan hiks. Semoga bisa menyusul menjadi keren seperti mbak-mbak yang telah kusebutkan di atas wkwk. Wanita-wanita cerdas, punya karya, berprinsip padahal kita tahu kalo memegang teguh prinsip dan iman kita itu nggak mudah. Ada ajaaa godaannya. Banyak ding:'( Ada ajaaa yang nyinyirin. Dibilang inilah itulah. Tapi kata bang Tere Liye sih semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang hendak merobohkannya. 

Ah Ya Allah, Ya Rabbi, Ya muqolibbal qulub tsabit qolbi ‘ala diniik :”)

Semangat^_^

Behind Japan Story Part II

Konnichi wa minna san! ^^

Hari ini aku mau melanjutkan cerita perjalananku ke Jepang yang penuh dengan kenekatan. Karena meskipun cuman beberapa hari dan rasanya sebentar sekali tapi segala sesuatu tentang Jepang selalu menetap di hati:’) #eaaa

Salah satu alasan aku berani dan nekat pergi jauh ke luar negeri adalah juga karena baca bukunya 30 paspor di kelas Sang Professor nya Pak Rhenald Khasali. Buku tsb sebenernya menceritakan pengalaman pertama kali ke luar negeri dan nyasar-nyasarnya mahasiswa2 UI terlebih mereka yang mengambil mata kuliah yang kebetulan dosennya Pak Rhenald Kasali.

Mungkin bagi sebagian orang pergi ke luar negeri itu sesuatu yang wah! Something deals with pride and stuffs. Padahal pergi ke luar negeri nggak melulu begitu! Going abroad is the way to train your self-driving skills. Jadi menurut Pak Rhenald selama ini kita sebagai mahasiswa, sebagai anak mama seringkali terjebak dalam suatu comfort zone yang bikin kita males untuk berkembang. Apa-apa bergantung pada orang tua.  Ada masalah dikit minta diselesain orang tua. Nah ketika kita sedang berada jauh di negeri orang, ketika sendirian dan tersesat kita akan dituntut untuk menyelesaikan  masalah kita sendiri. Ibarat sebuah bus, selama ini kita hanya menjadi penumpang sedangkan sang sopir adalah orang tua kita, guru-guru kita ataupun dosen kita. Kemana-mana ikut, kemana-mana manut. Terkadang kita harus berani mengambil posisi untuk menjadi sopir bus meskipun belum tahu benar rute tujuannya. Bahkan kata beliau semakin tersesat semakin baik wkwkwk. Because nobody could help but yourself. Disitu kemampuan self driving kita dilatih. Gimana caranya menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat. Sendirian!

——————————————————————

Sejak pertama menyandang status sebagai mahasiswa aku udah menyusun beberapa planning at least selama 4 tahun kuliah itu mau ngapain aja. Dan yang pasti beberapa diantaranya adalah going abroad with student identity wkwk. Honestly, aku bukan tipe mahasiswa yang betah duduk di kelas for hours. Itu sebabnya aku selalu memanfaatkan jatah bolos 3x bahkan lebih for something else aka jalan-jalan kemana saja๐Ÿ˜‚ ((well sepertinya ini jangan ditiru))๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Harusnya ke Jepang adalah planning tahun 2016 yang baru terealisasi tahun ini. Tahun lalu waktu wawancara bikin paspor aku ditanyain sama petugasnya. “Mau ke mana mba?” Dengan mantap aku jawab “Ke Jepang, Pak.” Wkwk padahal waktu itu gaada rencana ke Jepang cuma sekedar angan-angan ๐Ÿ˜‚ Tapi akhirnya tahun 2017 omonganku menjadi doa yang terkabul menjadi kenyataan eaaa.

Oiya btw aku mau cerita perjalanan aku selama ke Jepang!

20 April 2017,

Finally landed safely di Kansai International Airport (KIX) Osaka setelah 6 jam terbang dari Kuala Lumpur. Dan setelah 10 jam menggembel bersama penumpang yang lain ketika transit di McDonald bandara KLIA. First impression tentang negara Jepang adalah: Strict. Pemeriksaan imigrasinya literally jauh lebih strict daripada Malaysia apalagi Indonesia. Tapi petugasnya semua welcome kok ehe. 

Tujuan pertama ketika nyampe di bandara adalah beli simcard buat internetan! Dan waktu kita beli di salah satu semacam counter gitu ditolak karena umur kita less than 21 wkw. Terus kita disuruh beli pake mesin mandiri gitu yang sangat wtf karena nggak ada english sign-nya cara pakenya gimana:’) Disitu ada beberapa turis salah satunya yang memperkenalkan aku dengan Kak Diah, a Malaysian doctor who is currently work in UK yang inspiratif syekaleehh. Oiya btw harga simcard disana cukup mahal 2.500 japanese yen untuk seminggu pake with limitation perhari 250mb hikss. Kalo dirupiahin mungkin sekitar 300 ribuan. 
Nah setelah ituu kita bingung mau gimana ke kota Kyoto nya. Karena bandaranya KIX ada di kota Osaka. Sebenernya kita udah tau kalo dari Osaka ke Kyoto bisa ditempuh pake kereta. But the matters would be kereta apa dan yang mana:’)) Disana tulisannya kanji semua. Sumpah lah ya. Aku sih bisa bahasa Jepang sikit-sikit la macam baca tulisan hiragana dan katakana. Kalo kanji dah ampunnn hayati bang ๐Ÿ˜ฆ  

Akhirnya kita memutuskan untuk bertanya! Yak kata pepatah malu bertanya sesat di jalan itu benar, sayang. Tapi masalahnya lagi kebanyakan orang Jepang nggak bisa bahasa inggris. Termasuk petugas yang kita tanyain waktu itu. Walhasil kita saling ngomong ala-ala bahasa tarzan gitu deh hiks. Setelah perdebatan yang cukup panjang dengan sang petugas akhirnya kita otw ke Kyoto pake kereta Haruka Express. Kereta Haruka termasuk shinkasen sih atau kereta tercepat di Jepang. Tapi ya harganya cukup mahal 2.700 JpY. Perjalanan dari bandara Kansai ke kota Kyoto memakan waktu 75 menit. Dan di sepanjang jalan kenangan #eaaa kita disuguhi pemandangan kota Jepang yang biasanya cuma liat di anime-anime wkwk.

Magrib, Stasiun Kyoto

Stasiun Kyoto itu bangunannya bagus dan megah sekali. Bahkan menurut buku yang aku baca sempet di demo masyarakat sekitar karena arsitekturnya yang terlalu modern. Stasiun rasa bandara lah ehe. Dan disitu rameeee banget banyak orang-orang Jepang yang pulang kerja berlalu lalang. Aku pusing sekali dan berasa remah-remah jasjus gopekan yang tersesat di antara ribuan manusia asing *hiks*

Disana we face two challenges!

Pertama internet belum connect karena keterbatasan pengetahuan bagaimana memakainya. Hiks. Kedua kita nggak tau hostel kita ada dimanaaaa. Mau pake gmaps gabisa. Nanya petugas juga not helpful at all karena keterbatasan bahasa. Akhirnya kita tersesat dan tak tahu arah jalan pulang hiks. Mana kondisi saat itu kita jalan kaki, menyeret koper berat, nggak tahu mau kemana, capek banget, jetlag, kedinginan. Tubuh ini mengalami syok yang sangat berat karena pertama kali menginjakkan kaki di Kyoto disambut oleh suhunya yang 10 derajat celcius padahal itu musim semi. God I’m dying :'(( Sedingin-dinginnya Kaliurang nggak pernah di bawah 15 derajat wkwk. Di tengah kebingungan itu akhirnya aku nanya sama bapak-bapak yang sepertinya pulang kerja jalan kaki. One thing I’m much in love with Japan is their culture. Mereka semua pada berjalan kaki atau naik sepeda. Nggak peduli anak sekolah, ibu-ibu, bapak-bapak berjas yang kerja kantoran. Nggak ada tuh yang namanya naik sepeda motor atau mobil. Jaraaang banget. Bandingin sama di Indonesia yang kebanyakan polusi dan macet karena volume kendaraan bermotor.  Padahal mobil dan motor itu produksi Jepang kan, ya? Tapi mereka sendiri nggak pake kendaraan bermotor. Even worse, di Indonesia jumlah kendaraan seringkali disangkutpautkan sama kekayaan seseorang. Semakin banyak jumlahnya semakin seseorang itu terlihat ‘wah’ padahal Ya Rabbi plis demiapa. Turut menyumbang angka polusi di planet ini kok ya ujubnya setengah mati. Sungguh Indonesia sekali๐Ÿ˜‚

Oiya balik ke bapak-bapak tadi, aku selalu mencoba mempraktekkan bahasa Jepangku meskipun amatiran to make Japanese people impressed wkwk. Nelson Mandela pernah bilang, “If you talk to a man with in a language he understands, that goes into his head. If you talk to him in his language, that goes into his heart.” And yap mereka appreciate sekali tehadap sosok orang asing-berhijab pula yang berusaha nanya dalam bahasanya. Bapaknya bantuin kita nunjukkin jalan untuk menemukan hostel. Dan setelah berjalan satu kiloan sambil nyeret-nyeret koper akhirnya kita nyampe di ใจใพใจใใ‚‡ใจsใŸใ„ใŠใ‚“ aka Tomato Kyoto Station guest house. Aku rekomendasiin tempat ini bagi kalian yang ada acara di Kyoto mungkin hehe. Tempatnya lucu, kawaii kayak kamarnya Nobita hehe, deket sama Stasiun Kyoto, dan nyaman untuk ditinggali sementara bagi para backpacker yang budgetnya nggak tebel-tebel amat. 

                       -To be continued-

The next story will be experience exploring several cultural places, joining conference dan cerita tentang kakek Tadaka yang baik banget yang ketemu aku di bis kota. See you!

Subway bandara Kansai
Haruka Express Train
Menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki

Behind Japan Story Part1

Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. 

– Andrea Hirata-

What motivates me a lot untuk menjadi sesuatu sampai hari ini adalah that powerful quotenya Andrea Hirata :’)

Quote tsb jugalah yang turut andil dalam melangkahkan kaki saya ke negeri sakura, Jepang:’) mungkin banyak temen-temen deket saya yang tahu bahwa saya pengen ke Jepang, as the first country I’d like to visit. Saya orangnya pengen kemana-mana. Meskipun saya ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, lho hehe. Tapi niat dan mimpilah yang mampu membawanya langkah ini semakin nyata. #eaapasih

Jadi, to answer your question all guys. Ngapain ke Jepang?

Jawabannya adalah ikutan konferensi internasional. 

International conference itu kek gimana sih?

Jadi tahap pertama ikut konferensi itu submit paper/research kamu tentang sesuatu. Dan kebetulan conference yang aku ikuti kali ini temanya tentang 4th English Literature and Humanities. Dan kebetulan juga aku daridulu suka banget menganalisa *halah* berpikir dan kepoin permasalahan tentang humanities, utamanya tentang perdagangan manusia (human trafficking) and international crime.  Jadi berbekal nekat aku dan temen-temen submit abstract ke pihak penyelenggara konferensi dan setelah menunggu beberapa bulan ternyata abstrak saya lolos! Artinya harus dilanjutin nulis paper dan segala sesuatunya.

Setelah tahap tersebut tibalah saat menentukan jadi/nggaknya datang ke konferensi. Setelah dilanda kegalauan berat karena ke Jepang butuh dana yang nggak sedikit, ribet ngurus keberangkatan ini itu dan tetek bengeknya. Pokoknya waktu itu hampir aja conference Jepun aku lepasin dan nggak jadi berangkat. Namun setelah meluruskan niat *eaaa* Tuhan ngasih aku jalan yang lebaaarrr banget buat ke Jepang:’)

Seenggaknya ada dual hal besar yang berhasil kita fight buat ke Jepan.  Fight pertama adalah soal dana. Jadi kita memutuskan untuk mencari sponsorship baik dari UGM sendiri atau dari perusahaan-perusahaan gede buat membiayai atau menutup kekurangan dana kita buat ke Jepang. Sebisa mungkin kita berusaha nggak minta duit ke orang tua. Kalaupun mentok harus minta kita nggak mau minta banyak-banyak wkwk. Dan itu struggle-nya feels like……….anjir haha. Tapi aku bersyukur banget punya partner macem si Ghilmy yang pandai mencari celah, lowongan buat dapet sponsor hahaha๐Ÿ˜‚

Dan akhirnya alhamdulillah banyak proposal kita yang tembus dan dikasih dana sama beberapa pihak swasta, antara lain Tahir Foundation, PT Waskita, Bank BPD DIY, Jamkrindo,UGM. Tapi dari FIB sendiri belum cair hahaha *beraksekebon*

Fight kedua adalah soal waktu. Aku ngerasa waktuku sedikit sekali karena banyak yang harus dilakukan instead of kuliah, nugas, ngajar cah cilik, revisi paper, ngurusin sponsorship, sampe ngurusin kebutuhan keberangkatan. Tapi alhamdulillah. Lagi-lagi Allah itu maha memungkinkan sesuatu yang menurutku nggak mungkin:’) duh pengen nangis hehe.

Mungkin bagi orang yang nggak tahu, dan nggak ngerasain jadi aku. Cuma  komen like “Wah enak ya ke Jepang.” “Wah asyik banget bla bla bla..” You don’t understand babe, ada harga yang dibayar untuk semua itu. Ada harga yang dibayar untuk mewujudkan mimpi itu. Kerja keras, tangisan dan air mata #eaaaa

Aku selalu berprinsip, kalau mimpi yaudah perjuangkan! 

Biarlah orang mengatakan aku ambis dan lain-lainnya. Serah lo deh ya. Mari kita jalani hidup dan mimpi masing-masing. Toh as long as gw nggak mengganggu hidup lo, jangan usik gw either. Hahaha. 

So yeaaa akhirnya saya ke Jepang!!!!! Di bulan April pas lagi sakuranya mekar alias hanami. Ah bener-bener:’) kesempatan yang tepat di waktu yang tepat. Dan itu berasa kayak perjuangan berbulan-bulan kemarin dibayar lunas plus dikasih bonus malah. Hehehe.  

Oiya satu fakta lucu yang saya dapet selama conference ternyata saya termasuk ‘the special one’ karena rata-rata yang ikut konferensi udah profesor semua haha. Banyak juga sih yang students, tapi master and PhD students hahaha. Undergraduate studentsnya cuman dikiit banget termasuk saya๐Ÿ˜‚ dan mereka semua appreciate kepada anak-anak S1 yang berani ikut ginian wakaka. Nek jareku sih #oranekatoramangkat wkwk

Terimakasih Jepang, kamu dan Kyoto adalah saksi bahwa mimpi saya nggak akan berhenti disitu. Akan ada banyak kota di berbagai belahan dunia yang akan saya kunjungi. 

Saya pengen jadi traveler muslim seperti Ibnu Batuttah yang menaklukan dunia. Hehehe. Alasannya apa? Karena menurutku pribadi, travelling nggak cuman membawa kamu ke tempat-tempat bagus lalu foto selfie disana. More than it, kamu juga belajar tentang negaranya, budayanya, orang-orangnya bahkan bener-bener berbeda denganmu. To what? To make you wiser man in life. 

Terakhir dari saya,

Tempuhlah sejauh-jauhnya perjalanan, temuilah berbagai jenis orang-orang. Karena sejatinya tujuan dari sebuah perjalanan selain mengamini karunia-Nya juga menumbuhkan kamu menjadi manusia yang lebih bijaksana.

25 April 2017

Tamparan Keras Berawal dari Stalking

Be less curious about people and more curious about ideas.

-Marie Curie-

Btw secara tidak sengaja malam ini saya tertampar dengan keras *hiks* oleh quotenya tante Marie Curie, saintis perempuan pertama yang kece badai:’)

Semua ini bermula ketika saya mengisi kegabutan yg hqq dengan stalking. Hidup saya hina sekali dikit-dikit buka sosmed. Dikit-dikit liat postingan orang. Liat postingan terbaru lambe turah, kebawa baper postingan akun-akun dakwah yang menggembar gemborkan nikah muda, dll. And it feels like I’m driven by technology. Sad but true. But fortunately, yang saya stalking barusan adalah akun instagramnya mba-mba cantique, pinter, masih muda, dan sedang kuliah doktoral di Oxford University. Woanjeerr:'( Oxford demiapa:'( si mba dulunya anak UGM juga. Dan beliau literally make me feels like……… gue ngapain aja. Menghabiskan waktu dengan sia-sia hiks. Mimpi doang mau ke Oxford tapi usaha cuma stalkingan akun2 yang ngomporin nikah. Njuk piyeeeee kowe nok:’)

Tapi iya beneran kecanduan gadget itu nggak baik. Sumpah. Apalagi kebanyakan liat postingan yang menyesatkan. Salah satunya yang ngomporin dikit-dikit mau nikah, pengen nikah, ketemu jodoh. Duh sumpah nek jarene wong jowo timur iku jenenge mblenekno:'(

Yo rapopo sih, nggak papa. Tapi mbok ya jangan setiap saat begitu. Saya tahu kalau setiap orang itu punya prinsip yang beda-beda, termasuk prinsip soal menikah. Iya. Ada yang pengen nikah saat ini juga, ada yang pengen nikah besok pas skripsi, ada yang pengen nikah abis lulus S2 aja atau bahkan ada yang nggak pengen nikah. Tapi plis dear wanita-wanita termasuk saya, jangan stalking akun nikah kebanyakan. Apalagi sampe tersugesti yang merasuk ke dalam jiwa dan raga hiks. Ada salah satu cerita dari temen saya waktu main ke Surabaya di sesi menggibah kemarin hahaha. Ada salah satu temennya temen saya yang dia itu….. driven by those fucking accounts until she wants to marry as soon-crying over everytime she watching people’s marriage-begging to be married-sampe males kuliah pokonya nikah aja and stuffs- saya lantas bilang, duh gila dahsyatnya dampak akun-akun tersebut ya. Dahsyatnya dampak stalking sesuatu yang kalo kita sendiri nggak pinter-pinter milah bakal menjerumuskan even menjadikan kita seseorang yang terombang-ambing dalam berprinsip. Saya nggak bilang ngelarang nikah muda, but as long as you’re prepared enough for it ya monggo. Tapi kalo motivasi nikah muda berdalih *menyempurnakan agama* padahal cuma pengen bisa upload foto mesra sama pasangan halal sih………………….. are you fucking kidding me?? Cuma pengen ada yang perhatian nanyain makan, sms setiap saat sih…….. mendingan pacaran sama operator indosat wkwk. Kidding, babe. Mbokya sekolah doeloe sing bener. Berpendidikanlah setinggi-tingginya. Kalo katanya Om Piring dalam bukunya The Alpha Girls, jangan pernah mentingin laki-laki daripada ilmu. Karena laki lo itu bisa selingkuh, minta putus, minta cere, minta kawin lagi tapi kalo ilmu bakalan ikut lo kemana-mana. Education will make you stand on your own. Pendidikanlah yang seharusnya membuat perempuan menjadi cerdas. Cerdas dalam definisi saya bukan yang IP 4,1 yang-yah yang diukur dengan angka-angka dalam sistem akademik. Cerdas itu mampu menggunakan pendidikan yang elo dapet. Mampu mengaplikasikan kemana-mana. Mampu menempatkan diri dalam situasi apapun dengan kalem dan selo. #eaasokbijak

Dan tepat saat saya stalking akun dan research doktoral mbanya tadi muka saya berasa digampar. Anjirrr pinter banget sumpah. She knows what she’s doing. Lah gue selama ini kuliah ngapain, ditanyain definisi pastoral poetry paling cuma bisa muntah:”” tapi ya at least ada hikmahnya stalking mba tsb hari ini. Saya jadi ngereviewing lagi soal:

‘mau ngapain hidup ini’

‘mau ngapain setelah ini’

‘main-main? Sampe kita yang dipermainkan dunia yang kejam ini? Wkwk’

Setiap dari kita harus punya prinsip dalam hidup. Itu wajib-mutlak-harus. Jangan mau hidup di maen-maenin ngikutin arus yang nggak tau arahnya kemana. Kalo arahnya ke taman berbunga nan indah sih aman, lah kalo ke jurang? You dead, babe.

Intinya be principle, dan jangan menyia-nyiakan waktu luang untuk hal-hal yang kurang berguna dan nirfaedah. *rungokno,Ndin*

Padahal kata salah satu hadist, nikmat manusia itu sejatinya ada dua. Nikmat sehat dan nikmat waktu luang. Ketika banyak keseloan melanda,

Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

Ar-Rahmaan: 30

Kamu;

Tak ada laki-laki seperti kamu.

Barangkali adalah benar.

Tak ada laki-laki sebaik kamu, setelah ayah dan saudara lelakiku.

Barangkali adalah benar.

Kita seringkali dipertemukan dengan orang-orang yang menyakiti hati dan perasaan kita, yang tertawa di atas kesedihan kita, yang bahkan sering memperolok atas apapun yang kita lakukan. Barangkali hal semacam itu terjadi karena Tuhan ingin kamu mengingat kebaikan seseorang. Tuhan ingin kamu tidak begitu saja melupakan jasa seseorang. 

3 tahun barangkali bukan waktu yang sebentar itu benar, apalagi jika diisi oleh kebaikan-kebaikan tulus tanpa mengharapkan apapun. Barangkali juga itu yang disebut cinta? Kebaikan yang selalu datang saat panas terik, saat hujan turun teramat deras, di tengah amarahmu tak terkendali, di saat paling hancur dalam hidupmu pun ia selalu hadir disana. Membawa segelas coklat panas dan senantiasa menenangkan, “kamu akan baik-baik saja..”, katanya. Barangkali begitulah orang jatuh cinta, ia tak pernah membiarkan kamu menangis. Pun kalau itu terjadi, ia akan datang di beranda rumahmu untuk sekedar menemanimu, melupakan harimu yang buruk, serta menghiburmu. Barangkali begitulah caranya jatuh cinta, ia tak membiarkan dirimu terluka. Pun ia tak pernah seenaknya menjamah. Ia menjagamu seolah kamu adalah sesuatu yang amat berharga, diletakkan di hatinya tepat dekat tulang rusuknya. Barangkali begitulah caranya jatuh cinta, ia tetap menjaga perasaanmu agar tidak terluka bahkan setelah sekian lama kalian tidak sedang bersama, pun ketika ia jatuh hati dengan perempuan lain. Ia menjaga perasaanmu agar tidak terluka olehnya. Bahkan ketika hatimu sendiri tak lagi berharap padanya, ia tetap menjaganya. 

Barangkali kamu harus bertemu dengan orang yang menghancurkan hatimu, agar kamu senantiasa ingat bahwa ada seseorang yang selama ini berusaha menjaganya. Barangkali kamu harus merasakan patah hati yang teramat sangat, agar kamu ingat ada seseorang yang mati-matian merawatnya. Barangkali caranya jatuh cinta senantiasa mengingatkanmu, bahwa laki-laki baik adalah mereka yang merawat bukan menghancurkan. Karena hakikat cinta itu sendiri adalah menjaga bukan merusak.

Begitulah. Hidup adalah sekumpulan barangkali. Dan barangkali sosok kamu hanya ada di pikiranku? Adakah lelaki sebaik itu?

Ada itu kamu.

Aku berdoa semoga senantiasa dipertemukan dengan orang-orang baik, laki-laki baik, apapun itu yang membuatku tidak takut dengan pikiranku sendiri tentang definisi laki-laki. 

Izinkan aku menulismu pada sebuah sajak atau barangkali catatan hidup-apapun itu. Setidaknya, hari ini aku mengingat tiga lelaki baik yang pernah ada dalam hidupku. Kamu, selain ayah dan saudara lelakiku.

Terima kasih, kamu.

Yogyakarta, 2017

Manusia itu.. Hitam atau Putih?

Menjadi diri sendiri tapi nggak munafik itu lebih baik daripada menjadi orang lain tapi munafik.

Haha. Saya mau ngetawain kalimat di atas yang sering kali dipakai sebagai excuse oleh kaum-kaum yang melabeli dirinya sebagai orang yang being bad and proud about it. Ngomongin soal munafik itu sebenernya luas tapi dari kacamata paling sederhana munafik itu menipu diri sendiri lalu selanjutnya menipu orang lain. Munafik itu membohongi /mengingkari sesuatu. Padahal dia tau itu salah tapi seolah mencari pembenaran bahwa yang dilakukan itu tidaklah salah. Kalo di agama Islam ada tiga ciri orang munafik yang dua diantaranya apabila berkata ia berdusta, apabila dipercaya ia mengingkari. Duh pake bawa-bawa agama lagi entar saya dicap sok agamis sama kaum yang menganggap saya munafiq wqwq๐Ÿ˜‚

Yaudah back to the topic, saya nggak mau bilang bahwa munafik itu dosa bikin masuk neraka dll. Saya percaya bahwa urusan agama itu urusan pribadi masing-masing sama Tuhannya. Ibaratnya dalam konteks agama, mau munafik monggo, mau enggak monggo asal resiko ditanggung penumpang. Toh saya sama sekali ndak punya hak buat ngomentarin orang lain soal agamanya. Tapi masalahnya disini adalah saya merasa lucu sama orang-orang yang dengan bangga mengklaim dirinya tidak munafik lalu melempar asumsi bahwa semua orang yang keliatan ‘baik-baik’ itu adalah orang munafik wkwkw. Semua orang yang keliatannya baik adalah orang yang sedang pencitraan dan semacamnya. Wkwk menurut saya semua orang itu in between hitam enggak, putih juga enggak. Abu-abu. Sebaik-baiknya manusia juga punya keinginan untuk melakukan dosa (definisi dosa depends on masing2 perspektif) dan sebajingan-bajingannya manusia ia pasti juga pernah ingin berubah menjadi lebih baik. Dan kita sama sekali nggak berhak untuk melihat sesuatu dari satu warna aja tjoy wqw. 

Balik lagi yha, dunia makin hari dah makin gila aja. Coba liat di media sosial banyak banget orang-orang yang bangga about being bad. Contohnya? Sebut saja awkarin-anya-the takis apalah itu yang dengan bangganya mempertontonkan kenirfaedahaan berbalut aesthetic๐Ÿ˜‚ what the hell is that. Dan semua orang-orang yang mencari pembenaran padahal dia tau yang dilakukan itu salah. Lagi-lagi dengan di denial dengan kata, “at least gw nggak munafik..”๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Simply, I wouldn’t comment anything karena itu hidup-hidup mereka, dosa-dosa mereka urusan masing-masing. Nah tapi yang jadi masalah disini adalah ketika kemunafiqan-kebanggaan menjadi buruk tersebut does affect another people. Ngefek ke orang lain bahkan merugikan orang lain, itu baru masalah. Kalian nggak hidup sendirian di dunia ini tjoy dan hidup ini nggak tersedia satu warna aja. This world is much more colorful than you think. Ada aturan-aturan tertentu untuk saling bergaul sesama manusia, saling menghormati. Ada salah satu ceramah di masjid deket rumah gw yang gw inget sampe sekarang, bahwa kunci bahagia hidup di dunia itu ada dua jenis hubungan habluminallah dan habluminannas. Hubungan sama Allah dan hubungan sesama manusia dan dua-duanya harus seimbang. Percuma misalnya hubungan sama Allah dekeet banget tiap hari njungkel-njungkel tapi dalam kehidupan sehari-harinya dia berbuat buruk ke tetangganya, misalnya. Pun sebaliknya, ke orang-orang baikk banget ngasih apa aja yang mereka butuhin eh tapi lupa sama Yang di Atas, lali karo sg nggawe urip. Eh saya kok jadi tausiyah sih wqwq. Ya begitulah. 

Balik lagi ke manusia-manusia yang bangga menjadi buruk dan tidak munafik. It doesn’t matter with what you believe but do not blame others just because they look good and they aren’t you๐Ÿ˜‚ analoginya sama kayak, saya agamanya Islam terus percaya bahwa Islam itu agama paling bawener wes. Liyane salah kabeh. Liyane kafir. Duh menyedihkan sekali kalo saya punya pemikiran sesempit itu. Lha wong kebenaran itu sifatnya nggak mutlak kok apalagi dari kacamata manusia yang penuh kealpaan wqw. Trust what you trust is enough. Do not blame.

Semua orang itu manusia bukan malaikat. Manusia juga punya hawa nafsu, punya keinginan untuk nggak taat dsb dsb. The matters would be, gimana cara kita ngontrol diri kita agar senantiasa menjadi baik. Senantiasa sabar ketika bahkan ingin misuh-misuh. Buat apa? Buat kebaikan diri sendiri dong. Emang mau punya citra buruk yang senantiasa melekat di benak orang lain? Di benak Tuhan? Allah aja lho berusaha nutupin aib-aib kita. Lha kok kita manusianya malah pamer aib wqwq, kan luchu.  Emangnya kejelekan manusia itu turun gitu aja dari langit? Terus kita nggak berusaha memperbaiki dan pasrah gitu aja menjadi manusia yang buruk? Eh bangga malah? ๐Ÿ˜‚

Pun demikian kepada orang-orang yang bisa dibilang udah rada bener, jangan merasa paling bener dan lebih baik dari orang lain. Merasa dirinya sucih lainnya penuh dosya. Nanti takabur, lho.

Sirius Black pernah bilang, “We’ve all got both light&dark inside us. The matter is what we choose to act on. That’s who we really are..”

Semua orang itu punya sisi hitam dan putih. Akan jadi orang seperti apa dirinya, tergantung pilihannya sendiri. Yang penting senantiasalah belajar untuk menjadi lebih baik, bukan malah bangga menjadi buruk dan saling lempar asumsi soal kemunafiqan๐Ÿ˜‚

Please to note:

Definisi baik dan buruk is very relative, I know you have your own standard about it.
Much love, mahasiswi yang terluntang-lantung  di kampus tiap waktu sholat Jumat:’) anggap saja sebagai tausiyah gratisan wqwq.