Manusia itu.. Hitam atau Putih?

Menjadi diri sendiri tapi nggak munafik itu lebih baik daripada menjadi orang lain tapi munafik.

Haha. Saya mau ngetawain kalimat di atas yang sering kali dipakai sebagai excuse oleh kaum-kaum yang melabeli dirinya sebagai orang yang being bad and proud about it. Ngomongin soal munafik itu sebenernya luas tapi dari kacamata paling sederhana munafik itu menipu diri sendiri lalu selanjutnya menipu orang lain. Munafik itu membohongi /mengingkari sesuatu. Padahal dia tau itu salah tapi seolah mencari pembenaran bahwa yang dilakukan itu tidaklah salah. Kalo di agama Islam ada tiga ciri orang munafik yang dua diantaranya apabila berkata ia berdusta, apabila dipercaya ia mengingkari. Duh pake bawa-bawa agama lagi entar saya dicap sok agamis sama kaum yang menganggap saya munafiq wqwq😂

Yaudah back to the topic, saya nggak mau bilang bahwa munafik itu dosa bikin masuk neraka dll. Saya percaya bahwa urusan agama itu urusan pribadi masing-masing sama Tuhannya. Ibaratnya dalam konteks agama, mau munafik monggo, mau enggak monggo asal resiko ditanggung penumpang. Toh saya sama sekali ndak punya hak buat ngomentarin orang lain soal agamanya. Tapi masalahnya disini adalah saya merasa lucu sama orang-orang yang dengan bangga mengklaim dirinya tidak munafik lalu melempar asumsi bahwa semua orang yang keliatan ‘baik-baik’ itu adalah orang munafik wkwkw. Semua orang yang keliatannya baik adalah orang yang sedang pencitraan dan semacamnya. Wkwk menurut saya semua orang itu in between hitam enggak, putih juga enggak. Abu-abu. Sebaik-baiknya manusia juga punya keinginan untuk melakukan dosa (definisi dosa depends on masing2 perspektif) dan sebajingan-bajingannya manusia ia pasti juga pernah ingin berubah menjadi lebih baik. Dan kita sama sekali nggak berhak untuk melihat sesuatu dari satu warna aja tjoy wqw. 

Balik lagi yha, dunia makin hari dah makin gila aja. Coba liat di media sosial banyak banget orang-orang yang bangga about being bad. Contohnya? Sebut saja awkarin-anya-the takis apalah itu yang dengan bangganya mempertontonkan kenirfaedahaan berbalut aesthetic😂 what the hell is that. Dan semua orang-orang yang mencari pembenaran padahal dia tau yang dilakukan itu salah. Lagi-lagi dengan di denial dengan kata, “at least gw nggak munafik..”😂😂

Simply, I wouldn’t comment anything karena itu hidup-hidup mereka, dosa-dosa mereka urusan masing-masing. Nah tapi yang jadi masalah disini adalah ketika kemunafiqan-kebanggaan menjadi buruk tersebut does affect another people. Ngefek ke orang lain bahkan merugikan orang lain, itu baru masalah. Kalian nggak hidup sendirian di dunia ini tjoy dan hidup ini nggak tersedia satu warna aja. This world is much more colorful than you think. Ada aturan-aturan tertentu untuk saling bergaul sesama manusia, saling menghormati. Ada salah satu ceramah di masjid deket rumah gw yang gw inget sampe sekarang, bahwa kunci bahagia hidup di dunia itu ada dua jenis hubungan habluminallah dan habluminannas. Hubungan sama Allah dan hubungan sesama manusia dan dua-duanya harus seimbang. Percuma misalnya hubungan sama Allah dekeet banget tiap hari njungkel-njungkel tapi dalam kehidupan sehari-harinya dia berbuat buruk ke tetangganya, misalnya. Pun sebaliknya, ke orang-orang baikk banget ngasih apa aja yang mereka butuhin eh tapi lupa sama Yang di Atas, lali karo sg nggawe urip. Eh saya kok jadi tausiyah sih wqwq. Ya begitulah. 

Balik lagi ke manusia-manusia yang bangga menjadi buruk dan tidak munafik. It doesn’t matter with what you believe but do not blame others just because they look good and they aren’t you😂 analoginya sama kayak, saya agamanya Islam terus percaya bahwa Islam itu agama paling bawener wes. Liyane salah kabeh. Liyane kafir. Duh menyedihkan sekali kalo saya punya pemikiran sesempit itu. Lha wong kebenaran itu sifatnya nggak mutlak kok apalagi dari kacamata manusia yang penuh kealpaan wqw. Trust what you trust is enough. Do not blame.

Semua orang itu manusia bukan malaikat. Manusia juga punya hawa nafsu, punya keinginan untuk nggak taat dsb dsb. The matters would be, gimana cara kita ngontrol diri kita agar senantiasa menjadi baik. Senantiasa sabar ketika bahkan ingin misuh-misuh. Buat apa? Buat kebaikan diri sendiri dong. Emang mau punya citra buruk yang senantiasa melekat di benak orang lain? Di benak Tuhan? Allah aja lho berusaha nutupin aib-aib kita. Lha kok kita manusianya malah pamer aib wqwq, kan luchu.  Emangnya kejelekan manusia itu turun gitu aja dari langit? Terus kita nggak berusaha memperbaiki dan pasrah gitu aja menjadi manusia yang buruk? Eh bangga malah? 😂

Pun demikian kepada orang-orang yang bisa dibilang udah rada bener, jangan merasa paling bener dan lebih baik dari orang lain. Merasa dirinya sucih lainnya penuh dosya. Nanti takabur, lho.

Sirius Black pernah bilang, “We’ve all got both light&dark inside us. The matter is what we choose to act on. That’s who we really are..”

Semua orang itu punya sisi hitam dan putih. Akan jadi orang seperti apa dirinya, tergantung pilihannya sendiri. Yang penting senantiasalah belajar untuk menjadi lebih baik, bukan malah bangga menjadi buruk dan saling lempar asumsi soal kemunafiqan😂

Please to note:

Definisi baik dan buruk is very relative, I know you have your own standard about it.
Much love, mahasiswi yang terluntang-lantung  di kampus tiap waktu sholat Jumat:’) anggap saja sebagai tausiyah gratisan wqwq.

Senja;

​Menjelang petang;

Ada yang jatuh cinta pada terang takut pada gelap. Seperti ribuan orang yang meratapi langit menjingga di sudut kota sambil menyunting kenangan. 

Ia adalah senja; cantik dan dinantikan banyak orang. Yang telah berjuang seharian, sendirian. Ia adalah senja yang senantiasa bersinar. Meski banyak yang bilang senja itu perpisahan; yang mengantarkan manusia pada petang maupun kegelapan. Ia adalah senja yang mungkin bagi sebagian orang  sececah harapan bahwa ada yang manis di akhir perjuangan.

Ia tetaplah senja. Yang mungkin bagi orang orang tidak perlu merasakan berjuang terlalu keras, mendaki terlalu tinggi, berjalan terlalu jauh, atapun berlari terlalu kencang seperti dirinya. Tapi aku, boleh memperjuangkan diriku sendiri, kan?

#30DaysWritingChallenge

I’m Home

Something always brings me back to you.

It never takes too long.

No matter what I say or do.

I’ll still feel you here till the moment I’m gone…

-Sara Bareilles, Gravity-

24/365

Tuhan saya mau pulang. Berbulan bulan mengandalkan logika tak seberapa hanya mampu membuat hati berlubang, kian besar. Logika tidak mampu menyelamatkan aku dari kesedihan, pun kedukaan. Disitulah engkau nampak, bahwa segala sesuatunya akan selalu menjadi milik-Mu, kembali pada-Mu. Dan kamu, ada.

Aku selalu mendefinisikan kebahagiaan adalah ketenangan dan kebersamaan bersama sesuatu yang kami cintai. Hari ini hati saya tidak tenang, kucing kesayangan saya telah engkau panggil untuk pulang. Saya tidak bisa berhenti menangis seharian meski orang bilang, ia hanyalah seekor kucing. But you know, he’s more. 

Barangkali ini caramu untuk membuat hatiku pulang pada tempat seharusnya. Bahwa tidak ada satupun yang bisa menyangsikan engkau. Bahwa segala sesuatunya adalah milik-Mu.

Terimakasih Tuhan untuk 2,5 tahun yang indah dan penuh kenangan. Terimakasih telah mempercayakan kami menjadi teman dia sehari-hari. Tempatkanlah ia di tempat terindahmu, Tuhan. Maafkan saya yang baru pulang ketika sesuatu dari hidup saya telah hilang 😦

Terimakasih atas segala sesuatunya. Thankyou for holding me back even without touch 😥 

Terimakasih Tuhan, hari ke 24 di tahun ini saya banyak belajar. Saya tidak perlu lagi mencari rumah, atau mengandalkan berumah pada hati manusia yang mudah engkau bolak-balikkan. Because my home is You. You’re there in every remembrance heart of Your love, compassion, and power. 

Dan saya, tidak mau pergi jauh lagi.

Are you going to marry?

Are you going to marry?

That question. Spinning around my head.

Hari sabtu kemarin aku untuk pertama kalinya, sepanjang usiaku ini eak diundang untuk pergi ke sebuah acara nikahan teman semasa sekolah SD dulu.

Lalu beberapa hari kemudian banyak temanku yang mengunggah foto pernikahan mereka atau teman-teman yang sekedar pergi kondangan bertebaran di lini masa media sosialku. 

Menikah.

Satu kata yang asing buat aku wkwk. Sadar atau tidak ketika sudah memasuki angka kepala dua kita akan disibukkan oleh pikiran menikah. Mungkin soal ingin menikah yang menggebu kala melihat rekan sejawat telah menikah, mau menikah di usia berapa, dengan siapa, konsep pernikahan yang seperti apa. Ah jauh sekali ya? Wkw

Tapi itulah keluhan mereka yang sering kudengar.

Bagaimana dengan aku?

Aku bukan penganut cepat nikah cepat dapet jodoh dst… Karena menurut aku pribadi ketika kita memutuskan menikah di usia muda itu berarti juga harus siap dengan segala konsekuensinya, yang pasti menikah itu butuh tingkat kepercayaan yang tinggi eak.

Logikanya, bagaimana bisa kamu menggantungan hatimu dan segala sesuatunya pada seseorang yang baru mengenalmu tidak lebih lama dari orang tuamu? Dan kamu akan mengarungi hidupmu mungkin berpuluh-puluh tahun mendatang dengan dia? Apakah selamanya ia tetap menjadi baik seperti kala kamu menikah dulu? Bagaimana kalau… ah sudahlah banyak cerita soal pernikahan.

Yang pasti aku ikut senang ketika teman-temanku menikah, itu artinya mereka telah menemukan sosok yang dia percayai yang dapat mereka gantungkan. Dan semoga selalu seperti itu.

Sedangkan aku, ah semoga cepat dewasa agar aku bisa mengatasi ketakutan-ketakutan pikiranku sendiri wkwk.

Selamat menempuh hidup baru, kawan. Aku percaya menikah itu pilihan bukan soal siapa cepat macam balapan atau bukan semata karena cinta yang membutakan.

Januari, 2017

#30DaysWritingChallenge

Belum Selesai;

14/365

People have done things, anything. But I haven’t done with myself.

Ketika orang lain sudah melakukan banyak hal, saya.. belum selesai dengan diri saya.

Orang lain tertawa, menangis, kecewa, merutuki hidup. Saya.. belum selesai. Dengan diri saya.

Ketika orang lain berpikir, menentukan, merencanakan sesuatu. Sementara saya, belum selesai.

Tolong jangan tanya kapan selesai. Pun saya, kurang tahu.

Bagaimana bila semesta tak pernah memberikan waktu untuk menyelesaikan?

Bagaimana bila tak ada seorangpun yang mau memberi waktu?

Lalu sebenarnya, waktu itu milik siapa?

Saya hanya.. belum selesai.

Tidak tahu sampai kapan, mungkin esok, mungkin tahun depan, atau mungkin takkan pernah selesai?

Jangan-jangan saya terlampau jatuh cinta pada diri saya-cinta yang membutakan sehingga saya gelap mata?

Ah tidak. Saya hanya belum selesai.

Menjadi rumit itu asyik. Menjadi rumit itu memuakkan-pun saya minta maaf karena saya, belum selesai dengan diri saya.

Kamu jangan mencari. Karena saya, belum selesai.

#30DaysWritingChallenge

Jadi Penulis itu Miskin, tapi Asyik!

Aku tidak ingin kaya. Aku ingin jadi penulis. Aku tidak mau mobil mewah. Maunya jadi penulis. Aku tidak butuh uang milyaran. Butuhnya hakikat kehidupan. Meski kata orang jadi penulis komisinya tidak besar, tidak cukup buat beli rumah milyaran.  Apalagi yang bisa kau dapat dari menjadi seorang penulis selain melunasi tunggakan cicilan? Begitu tanya mereka.

Aku mau jadi penulis, pengamat seribu satu bau kehidupan. Ah tidak hanya mengamati tetapi juga menyelaminya, menuliskannya. 

Kalian pernah tahu bahwa hidup tidak hanya terdiri dari satu dimensi warna? Artinya apa?

Hidup bukan soal uang atau kekayaan. Hidup adalah hidup ketika kau menyadari begitu banyak dimensi perbedaan. Ada yang tinggal di gubuk reyot makan pindang tapi merasa kecukupan. Ada yang tinggal di rumah mewah tiap makan di restoran tapi tidak tahu apa itu kebahagiaan, yang penting bisa senang-senang, main perempuan. Selagi kaya katanya, hehe.

Ada yang terlalu berambisi mendapat kekuasaan, naik pangkat, naik jabatan. Ada yang linglung tak berguna macam orang gila di pinggir jalan.

Sebenarnya, apa itu kehidupan?

Ia tidak cuma soal kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, sehat atau penyakitan, buruk rupa atau tampan. Ia? Berwarna. Lebih dari sekedar putih atau hitam. Bisa saja ia merah? Atau biru? Mungkin merah muda?

Begitulah kehidupan.

Seperti yang kubilang tadi, aku mau jadi penulis. Aku bisa jadi orang kaya, orang gila, orang aneh, bahkan orang terburuk di muka bumi. Aku mau jadi penulis. Aku bisa jadi sombong karena merasa dapat menyelami berbagai rupa kehidupan ha ha ha.

Aku tidak punya uang. Aku mau jadi penulis. Penulis bukan cuma soal uang. 

Alangkah lucunya orang-orang kaya yang sombong karena punya banyak uang. Ia cuma kertas? He? 

Lebih lucu lagi orang-orang melakukan suatu hal yang prospeknya hanya satu; dapat uang.

Penulis tidak punya uang hanya seonggok cerita kehidupan, minimal untuk menghibur dirinya sendiri. Miskin hartamu boleh saja asal kaya pikiranmu daripada banyak hartamu tapi uang saja yang kau buru. Hidup tidak sesempit nilai tukar mata uang dolar.

Menjadi penulis itu miskin, tapi asyik.